Jl. Bhayangkara N0.13, Ngampilan Yogyakarta 55261

Single Blog Title

This is a single blog caption
25 Apr

Taman Sari Yogyakarta

Taman Sari Yogyakarta merupakan kastil di tengah danau yang digunakan sebagai tempat tetirah sang raja beserta permaisurinya di masa lampau. Meski kini bentuknya sudah jauh berubah, reruntuhan Taman Sari tetap memancarkan pesona yang sayang di lewatkan. Di tempat ini kamu bisa menyaksikan arsitektur bangunan yang indah serta menyusuri lorong-lorong gelap nan artistik sekaligus eksotik.

Gemericik air mancur di tengah kolam menjadi oase di siang terik yang siap menyambut kedatanganmu. Bayangan langit biru dan awan putih memantul dari permukaannya yang jernih. Tembok-tembok tua yang masih terlihat gagah dalam balutan warna krem semakin memperkuat kesan cantik nan klasik. Itulah pemandangan pertama yang akan kamu dapati tatkala melangkah masuk menuju kolam pemandian Taman Sari yang terbagi menjadi tiga. Beruntung kamu lahir masa kini, sebab di masa lampu tempat ini hanya boleh dimasuki oleh Sultan dan keluarganya.

Taman Sari atau yang oleh orang Belanda disebut dengan istilah waterkasteel, merupakan tempat pelesiran sekaligus tempat tetirah keluarga Raja Jogja. Bangunan yang memadukan arsitektur Belanda, Cina, Jawa, dan juga budaya Hindu ini dibangun pada masa pemerintahan Pangeran Mangkubumi alias Sultan Hamengku Buwono I. Istana air ini dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada istri-istrinya yang telah membantu selama masa peperangan yang sulit. Demak Tengis, seorang berkebangsaan Belanda ditunjuk sebagai arsitek yang merancang kastil megah ini.

Berbagai sumber sejarah mengungkap bahwa kompleks Taman Sari dulunya mempunyai sekitar 57 bangunan. Beberapa jenis bangunan yang ada, seperti pulau buatan, kolam renang, danau buatan, lorong bawah tanah, taman, kebun, gapura, gudang, dapur, tempat ibadah, kamar, menara dan gedung bertingkat. Saat ini bangunan yang masih tersisa dan dikunjungi oleh wisatawan adalah Sumur Gemuling, Umbul Pasiraman, Gedhong Gapura Hageng dan Gedhong Gapura Panggung, lorong bawah tanah, masjid pendem, serta reruntuhan Gedhong Kenongo. Meski hanya berupa reruntuhan, bangunan-bangunan tersebut tetap terlihat indah dan menawan.

Selain sebagai taman rekreasi bagi raja dan keluarganya, Taman Sari juga kerap dijadikan tempat bermeditasi bagi sang Raja sekaligus tempat untuk merancang strategi perang. Taman Sari juga berfungsi sebagai benteng pertahanan bagi keluarga raja. Tak heran jika bangunan ini dilengkapi dengan menara pengawas dan lorong-lorong bawah tanah sebagai jalur pelarian. Konon lorong-lorong rahasia tersebut mengarah ke kawasan Pantai Selatan.

Puas menikmati keindahan kolam pemandian, kamu bisa melanjutkan petualangan menuju Sumur Gumuling dan Gedung Kenongo. Di Kompleks Sumur Gumuling terdapat masjid bawah tanah atau masjid pendem yang dahulu digunakan sebagai tempat peribadatan Sultan dan keluarga. Bentuk masjid ini sangat unik dan berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya.

Masjid pendem Taman Sari terdiri dari dua tingkat, lantai atas untuk pria dan lantai bawah untuk wanita. Imam yang memimpin shalat akan berdiri di sebuah podium kecil berbentuk persegi yang dikelilingi 5 anak tangga dan dinding-dinding berjendela di sampingnya. Tanpa perlu berteriak kencang suara imam akan terdengar ke segala penjuru. Di bawah anak tangga dan podium kecil itu terdapat kolam yang digunakan sebagi tempat wudhu. Saat ini masjid pendem tidak lagi digunakan sebagai tempat peribadatan.

Spot menarik lainnya adalah Gedung Kenongo yang terletak di sebelah Plaza Ngasem. Bangunan Taman Sari dulunya digunakan sebagai tempat bersantap raja dan keluarga. Saat ini Gedung Kenongo hanya menyisakan reruntuhan yang eksotik. Sebagai tempat tertinggi dari Kompleks Taman Sari, kamu bisa menyaksikan Kota Jogja maupun sunset yang indah dari tempat ini.

Leave a Reply